Kasus Lopetegui Mengulangi Kisah Kubala pada Piala Eropa 1980

By Aloysius Gonsaga AE - Kamis, 14 Juni 2018 | 18:15 WIB
Pelatih timnas Spanyol, Julen Lopetegui, memberi instruksi kepada anak-anak asuhnya pada laga kontra Italia, Kamis (6/10/2016).
Pelatih timnas Spanyol, Julen Lopetegui, memberi instruksi kepada anak-anak asuhnya pada laga kontra Italia, Kamis (6/10/2016).

KOMPAS.com - Saga transfer Julen Lopetegui dari timnas Spanyol ke Real Madrid seolah mengulangi apa yang dilakukan oleh Ladislao Kubala pada 1980.

Lopetegui resmi menjadi nakhoda baru Real Madrid setelah diumumkan pada Selasa (12/6/2018). Pengumuman itu mengejutkan banyak pihak lantaran terjadi hanya empat hari sebelum Lopetegui membawa Spanyol menghadapi Portugal dalam laga pertama Piala Dunia 2018.

Selain itu, Lopetegui juga baru saja menandatangani perpanjangan kontrak dengan timnas Spanyol dengan durasi hingga 2022. Keputusan Lopetegui itu membuat Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) kecewa.

(Baca Juga: Tiga Tahun di Real Madrid, Julen Lopetegui Cuma Sekali Tampil untuk Los Blancos)

Sehari setelah pengumuman resmi Lopetegui ke Real Madrid, Presiden RFEF Luis Rubiales memutuskan untuk memecat Lopetegui.

"Kami dipaksa mengakhiri kontrak dengan Julen Lopetegui,” ujar Rubiales dikutip BolaSport.com dari Football Espana.

“Lopetegui adalah pelatih yang bagus, tapi kami tak bisa menerima keputusan ini,” tutur Rubiales lagi.

Aksi RFEF memecat Lopetegui terbilang berani. Pasalnya, sehari setelah keputusan itu Piala Dunia 2018 akan bergulir.

Timnas Spanyol pun menunjuk mantan bek Real Madrid, Fernando Hierro, untuk mengisi jabatan yang ditinggalkan Lopetegui.

Pengkhianatan Lopetegui terhadap timnas Spanyol seolah mengulangi kisah kelam pada Piala Eropa 1980. Pada 8 Juni 1980, sehari sebelum Piala Eropa dimulai, pelatih timnas Spanyol kala itu, Ladislao Kubala, menyetujui tawaran untuk melatih FC Barcelona.

Keputusan itu disampaikan Kubala di depan awak media dan menimbulkan kegemparan baik di sepak bola Spanyol maupun internasional. Namun bedanya, Kubala meninggalkan timnas Spanyol setelah Piala Eropa 1980.

Akan tetapi, kabar kepindahan Kubala itu terlanjur membuat para pemain Spanyol terpukul. Buktinya, La Furia Roja tak bisa berbicara banyak dalam pesta olahraga antarnegara Eropa yang digelar di Italia. Spanyol menjadi juru kunci Grup 2.

Bahkan, Spanyol kala itu tak mampu mendulang satu pun kemenangan. Tim arahan Kubala hanya mampu meraih satu hasil imbang dan dua kekalahan dalam tiga pertandingan fase grup.

La Roja ditahan imbang Italia dengan skor 0-0 pada laga pertama. Setelah itu, mereka ditumbangkan Belgia dan Inggris dengan skor identik, 1-2, pada partai berikutnya. Status juru kunci membuat timnas Spanyol harus angkat kaki lebih cepat dari Italia.

Dengan pengkhianatan yang sama, akankah nasib serupa dialami timnas Spanyol pada Piala Dunia 2018? (Taufan Bara Mukti)

Editor : Aloysius Gonsaga AE
Sumber : BolaSport
Komentar

Artikel Terkait

Berita Lainnya